Pengertian Kota dan Struktur Ruang Kota

Pengertian Kota dan Struktur Ruang Kota – Kota merupakan salah satu kenampakan di permukaan bumi sebagai tempat permukiman penduduk dengan beraneka ragam kegiatan. Jika ditinjau dari sejarah kelahirannya, sebetulnya kota berasal dari wilayah pedesaan. Akibat pertumbuhan penduduk yang terus meningkat, kebutuhan sandang, pangan, dan perumahan, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi wilayah pedesaan makin lama semakin berkembang dan meluas. Bahkan dengan terjadi penggabungan beberapa desa dihubungkan melalui jaringan jalan raya.

Pengertian Kota dan Struktur Ruang Kota

Pengertian Kota

Untuk mengetahui pengertian kota, berikut ini disajikan beberapa definisi kota.

  1. Bintarto, kota merupakan kesatuan jaringan kehidupan manusia yang ditandai dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan diwarnai dengan strata sosial ekonomi yang heterogen dan coraknya materialistis. Dengan kata lain, kota adalah bentang budaya yang ditimbulkan unsur-unsur alami dan nonalami.
  2. Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang otonomi daerah, kawasan perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat pelayanan jasa, pemerintah, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.
  3. Northam mengemukakan kota adalah lokasi yang memiliki kepadatan penduduk yang lebih tinggi daripada populasi lokasi tersebut, yang menjadi pusat administrasi, perekonomian, dan kebudayaan serta tidak hanya terpusat pada satu sektor.

Ada beberapa istilah yang sering digunakan dalam membahas pengertian kota, antara lain:

  1. urban adalah suatu bentuk yang memiliki suasana kehidupan dan penghidupan yang modern,
  2. city adalah pusat kota,
  3. town kota kabupaten,
  4. township adalah kota kecamatan.

Kota sebagai tata ruang harus merupakan lingkungan yang dinamis sehingga membutuhkan daya dukung bagi kehidupan penghuninya. Oleh karena itulah timbul beberapa sifat kota. Secara fisik, kota menyediakan berbagai macam fasilitas yang lengkap, seperti pusat perbelanjaan, perkantoran, pusat bisnis, rekreasi, dan olahraga.

Ciri fisik tersebut berdampak pada sifat-sifat kehidupan masyarakat kota. Sifat-sifat tersebut antara lain:

  1. hubungan sosial antarwarga bersifat patembayan (gesselschaft),
  2. adanya heterogenitas sosial,
  3. sikap hidup penduduk bersifat egois dan individualistik,
  4. adanya segregasi keruangan, yaitu pemisahan yang dapat menimbulkan kelompok atau kompleks-kompleks tertentu,
  5. norma-norma keragaman tidak begitu ketat,
  6. pandangan hidup masyarakat kota lebih rasional.

Struktur ruang kota

Struktur ruang kota berbeda dengan desa. Struktur ruang kota keadaannya lebih kompleks dan teratur. Struktur ruang kota mengatur pemanfaatan ruang atau lahan untuk keperluan tertentu sehingga tidak terjadi pemanfaatan yang tumpang tindih.

Pola penggunaan lahan merupakan salah satu bentuk interaksi antara manusia dengan lingkungan sebagai tempat hidupnya. Melalui perencanaan sistem penggunaan lahan yang tepat sesuai dengan kondisi lingkungannya, diharapkan kita dapat memanfaatkan ruang muka bumi secara maksimal.

Apabila kita perhatikan sistem pemanfaatan lahan serta penataan ruang wilayah perkotaan, ternyata pola penggunaan lahan kota memperlihatkan bentuk-bentuk tertentu.

Secara umum struktur penggunaan lahan kota dapat dibedakan menjadi tiga bentuk sebagai berikut.

1) Teori konsentrik

Dikembangkan oleh E.W. Burgess (1920), pola penggunaan lahan kota memperlihatkan zona-zona konsentrik (melingkar). Pusat dari zona tersebut merupakan inti kota, tempat paling ramai sebagai pusat kegiatan ekonomi. Semakin ke tepi, zona kegiatan ekonomi semakin sedikit. Sebaliknya, wilayah permukiman semakin banyak.

Menurut Burgess, struktur penggunaan lahan kota dikelompokkan dalam enam zona konsentrik sebagai berikut.

  1. Pusat Daerah Kegiatan /PDK (Central Business District/CBD) Wilayah CBD ini sering disebut down town (kota asal) atau loop (jantung kota). Daerah inti kota yang ditandai dengan gedung-gedung, pusat pertokoan, kantor pos, bank, bioskop, pasar, dan sebagainya.
  2. Zona transisi. Wilayah ini merupakan daerah industri manufaktur pabrik-pabrik ringan dan wilayah permukiman orang-orang kaya. Penggunaan lahan zona transisi merupakan pola campuran meliputi gudang-gudang barang sentra industri manufaktur, halaman parkir, kompleks perumahan yang disewakan, wilayah lokasi apartemen (kondominium) serta banyak dijumpai daerah slums.
  3. Wilayah perumahan atau tempat masyarakat yang berpendapatan rendah, merupakan daerah tempat tinggal kaum buruh kecil yang ditandai adanya daerah rumah susun sederhana yang dihuni oleh keluarga besar serta sebagian besar penduduknya bekerja sebagai buruh atau karyawan kelas bawah.
  4. Wilayah tempat tinggal masyarakat berpenghasilan menengah.
  5. Wilayah tempat tinggal masyarakat berpenghasilan tinggi. Daerah ini ditandai adanya daerah elit yang dihuni oleh orang-orang kaya, merupakan daerah perumahan yang dihuni oleh keluarga-keluarga kecil dengan ukuran rumah dan halaman bermain yang luas, sebagian besar penduduknya merupakan kaum eksekutif, pengusaha besar, dan pejabat tinggi.
  6. Wilayah jalur batas desa – kota (rural urban fringe zone). Daerah ini ditandai adanya daerah pinggiran kota dan banyak dijumpai para penglaju, yaitu penduduk yang bekerja di kota sedangkan sehari-harinya tinggal di daerah pinggiran kota.

Baca :

2) Teori sektoral

Dikembangkan oleh Homer Hoyt (1930), pola penggunaan lahan kota cenderung berkembang berdasarkan sektor-sektor. Pusat daerah kegiatan (CBD) terletak di pusat kota, namun pola-pola penggunaan lahan lainnya berkembang menurut sektor-sektor yang bentuknya menyerupai irisan kue tart. Sektor-sektor yang memanjang menyerupai kue tersebut disebabkan faktor geografi, yaitu bentuk lahan dan pengembangan jalan sebagai prasarana rute, komunikasi, dan transportasi. Di daerah-daerah yang datar, bentuk jalan umumnya lurus dan sistem penggunaan lahan kota secara sektoral lebih banyak terlihat karena lokasi permukiman penduduk mengikuti jalan-jalan tersebut untuk memudahkan transportasi dan pengangkutan.

3) Teori inti berganda

Dikembangkan oleh CD Harris dan E.L Ullman (1949). Pola penggunaan lahan di kota tidaklah sederhana seperti yang dikemukakan oleh teori konsentrik dan teori sektoral, sebab dapat terjadi pada suatu kota di mana terdapat tempat-tempat tertentu yang berfungsi sebagai inti-inti kota dan pusat pertumbuhan baru. Tempat-tempat yang berfungsi sebagai inti kota, antara lain kompleks perindustrian, pelabuhan, dan jaringan jalan kereta api, kompleks perguruan tinggi dan kota-kota kecil di sekitar kota besar.

Demikianlah info Pengertian Kota dan Struktur Ruang Kota dari admin tongkis.com, semoga bermanfaat.[ts]

Pengertian Kota dan Struktur Ruang Kota | admin | 4.5